Perempuan di Mata Buya Ringan-ringan (Part II)

Oleh : Shafwatul Bary Tuanku Imam

Ketiga, selalu memprioritaskan isteri. Sebagai ulama dan da’i kondang, Buya Ringan-ringan tak jarang harus bepergian berhari-hari untuk berdakwah ke penjuru-penjuru Sumatera Barat. Menurut pengakuan beliau, karena kala itu belum ada sarana komunikasi yang canggih dan instant seperti hari ini, setiap sebelum berangkat dakwah jauh yang berhari-hari, beliau selalu meninggalkan catatan jadwal dan tempat berdakwah kepada Umi. Mulai hari pertama sampai hari terakhir. Ini dilakukan agar Umi tahu setiap harinya Buya berada di mana dan Buya di sana sampai kapan. Buya sangat mendisiplini catatan itu. Suatu ketika, karena sangat kecanduannya audien mendengar ceramah Buya, mereka ingin meminta Buya agar menambah jadwal perjalanan satu hari lagi agar bisa berceramah di tempat mereka. Buya menolak dengan alasan bahwa catatan yang sudah ditinggalkan kepada Umi adalah catatan awal. Sehingga tidak bisa untuk dilanggar dan diubah-ubah. Bagi Buya, konsekuensi dengan catatan yang sudah ditinggalkan itu merupakan sebuah tindakan menjaga kepercayaan isteri. Bukti disiplin Buya dengan catatan tersebut selanjutnya adalah, suatu ketika, Buya sedang berceramah di sebuah surau di daerah Malalo. Dengan bermodal kepercayaan kepada catatan suami, Umi pun menyusul Buya ke surau tempat Buya berceramah. Melihat kedatangan Umi, Buya tersipu malu. Suara keras yang keluar ketika sedang berceramah pun berubah jadi lemah lembut. Dan karena tak ingin Umi menunggu lama, Buya segera mengakhiri ceramahnya. Para audien yang sedang kehausan akan ceramah Buya jadi mengerti sendiri kenapa Buya yang biasanya tahan berceramah dari bakda Isya sampai Subuh harus mengehentikan ceramahnya tak lama setelah kedatangan Umi.

Mempriorotaskan isteri, bagi buya, tidak hanya dalam dimensi waktu dan kesempatan yang diberikan, tapi juga dalam dimensi permintaan dan kemauan. Suatu ketika, Umi meminta dibuatkan teras yang luas dan berkeramik. Saat itu masih sangat jarang rumah yang berkeramik. Umi memintanya dengan mengatakan: “bia lah ndak babalian wak dagiang rayo banyak-banyak, asa alai babuek an wak teras bakaramik” (tidak apa-apa tidak beli daging banyak buat dimakan di hari raya, asalkan bisa dibuatkan teras berkeramik). Sebuah opsional-komparatif yang sangat tidak berimbang. Tapi Buya sangat memahami kemauan Umi, meskipun diberi pilihan dengan beli daging, Buya tetap membuatkan teras berkeramik dan membelikan daging banyak-banyak untuk hari raya. Satu lagi contoh yang bisa dikemukakan di sini adalah ketika Umi dan Buya di usia senja, Umi meminta agar dibelikan mobil untuk memudahkan mobilisasi. Mendengar permintaan Umi tersebut, tanpa pikir panjang, Buya pun membelikannya. Ternyata, tak lama setelah membeli mobil itu, Umi harus keluar masuk rumah sakit karena penyakit diabetes yang dideritanya. Mobil itu lah yang memudahkan mobilisasi ke rumah sakit. Sampai pada akhirnya, pada tahun 1998, Umi tutup usia meninggalkan Buya di dunia untuk kembali merajut kasih di akhirat kelak. (allahmma-i-ghfir laha wa i-rhamha). Pengakuan Buya, Buya tak dapat membayangkan sulitnya jika sebelumnya permintaan Umi tidak dikabulkan.

Sebuah adagium yang cukup menarik tentang mubadalah (kesalingan) antara laki-laki dan perempuan dalam konteks rumah tangga mengatakan: “suami yang baik adalah yang menuruti seluruh permintaan isterinya, sedangkan isteri yang baik adalah yang meminta tidak melebihi kemampuan suaminya”. interpretasi adagium ini bisa ditemukan dalam kisah Buya dan Umi tadi. Buya yang sangat menyayangi Umi, menuruti seluruh permintaan Umi. Dan Umi yang juga sangat menyayangi Buya, tau apa dan kapan harus meminta ke Buya. Teras berkeramik yang diminta Umi tadi, saat santri Pesantren sudah semakin ramai, sangat berguna untuk Buya dan Pesantren Buya. Para santri sangat senang berleyeh-leyehan di teras nan berkeramik itu sembari menunggu waktu Buya memberi pengajian. Dan Buya pun juga sangat senang melihat banyak santri yang menghabiskan waktu di rumahnya.

Keempat, anti poligini. Merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebutan yang tepat untuk seorang suami yang beristeri lebih dari satu adalah “poligini”, jamak di tengah-tengah masyarakat disebut dengan “poligami”. Padahal, poligami adalah sebutan untuk orang –baik laki-laki maupun perempuan– yang berpasangan lebih dari satu. Sedangkan untuk perempuan yang bersuami lebih dari satu, dalam KBBI disebut dengan “poliandri”. Buya Ringan-ringan adalah salah satu representasi ulama Pariaman yang menolak poligini. Penolakan Buya tidak diasumsikan sebagai penolakan atas ayat Alquran (QS, 4 : 3) yang menurut sebagian ulama ditafsirkan sebagai legitimasi praktik poligini. Buya menolak berpoligini, cenderung ke alasan psikis dan sosiologis. Kondisi sosial masyarakat Pariaman saat itu sangat menerima, bahkan “menjadikan biasa” praktik poligini. Apalagi yang melakukannya ulama.

Setelah tidak lagi menetap di Malalo, Buya mendirikan Pesantren di Ringan-ringan. Eksistensi Buya semakin meningkat dengan beridrinya Pesantren itu. Santri yang datang untuk belajar saban hari semakin banyak. Permintaan berdakwah pun semakin melonjak. Buya pun jadi ulama kondang dan terkenal se antero Sumatera Barat. Eksistensi ini juga berimbas ke banyaknya orang yang ingin meminangkan Buya untuk anaknya, meskipun orang-orang itu tahu bahwa Buya ketika itu sudah beristeri dan beranak. Seingat Buya saja, setelah beristerikan Umi, masih ada 36 orang lagi yang ingin dipinangkan dengan Buya. Ada yang langsung datang bertanya ke Buya, dan ada juga yang ke Ayah Buya. Semasa hidupnya, Umi pernah bercerita kalau pada suatu siang, ada dua orang laki-laki paruh baya yang datang ke rumah lalu mengajak Buya untuk berbicara di halaman rumah. Ternyata orang itu ingin meminangkan Buya untuk anak gadisnya. Dengan tegas Buya menolak proposal yang diajukan dua orang tersebut. karena bagi Buya, dengan segala kebijaksanaannya, Buya hanya mampu berbuat adil dengan satu isteri. Akan bagaimana jadinya jika ada dua orang atau lebih? Sedangkan konsep adil itu sangat mustahil untuk diimplementasikan seorang manusia.

Suatu hari Ayah Buya berkata: ”baa? Ndak ka batambah bini ang ciek lai? Maa ado Ungku di Piaman ko yang babini ciek” (Gimana? Kamu tidak mau nambah isteri satu lagi? Tidak ada Tuanku/ulama di Pariaman ini yang cuma beristeri satu). Istifham taubikhi Ayah Buya ini mengindikasikan bahwa Tuanku/ulama di Pariaman saat itu sangat lazim beristeri banyak. Sehingga, ketika ada satu orang saja yang cuma beristeri satu, jadi aneh dan tak lazim. Menyelisihi sebuah pandangan umum di kalangan ulama Pariaman kala itu, membuat Buya semakin dikagumi banyak orang. Bahkan, setelah berpulangnya Umi ke haribaan-Nya, Buya pun enggan untuk beristeri lagi. Pada satu kesempatan, Buya pernah menceritakan mimpinya, dalam mimpi itu Buya melihat Umi diajak laki-laki lain untuk pergi bersamanya. Buya merasakan kesedihan yang tak terbendung. Memubadalahi rasa yang dirasakan dalam mimpi itu, Buya berkesimpulan kalau rasa sakit yang dirasakannya ketika melihat Umi pergi Bersama laki-laki lain akan dirasakan Umi juga ketika Buya beristeri lagi dengan orang lain, walaupun ketika Umi sudah tiada. Keputusan ini jadi prinsip yang dipegangteguh Buya sampai akhir hayatnya. Dan Buya pun berkumpul dengan Umi di alam sana tanpa kehadiran orang lain yang menigai kebersamaan Buya dan Umi. (allahumma-i-ghfir lahuma wa-i-rhamhuma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *