Nurul Yaqin dan MFQ

Oleh: Shafwatul Bary Tk. Imam

Cabang MFQ (Musabaqah Fahmil Qur’an) di MTQ Tingkat Nasional dieksebisikan untuk pertama kali pada tahun 1983, saat itu Propinsi Sumatera Barat yang menjadi tuan rumah penjamu tamu para hamalah Alquran ini untuk berlomba.

Beberapa tahun berselang, cabang ini digemari dan mulai diselenggarakan dalam perhelatan MTQ tingkat Kabupaten dan Propinsi. Cabang ini boleh diikuti oleh setiap Insan Qur’ani yang berkompeten dengan syarat usia tidak lebih dari 18 tahun 11 bulan 29 hari. Terkait latarbelakang pendidikan peserta tidak ada batasan, jamak diikuti santri/siswa Pesantren dan Madrasah, siswa sekolah umum pun juga boleh mengikutinya.

Dalam perhelatannya di Propinsi Sumatera Barat, baik tingkat propinsi maupun kabupaten/kota, cabang ini adalah arena pertempurannya para santri Pondok Pesantren seantero Sumatera Barat. Adu kekuatan hafalan, keluasan wawasan keislaman, dan ketangkasan berfikir sudah jadi hal yang biasa bagi mereka. Bak pembalap Moto GP di tikungan sirkuit, tak menyenangkan jika tak saling salip.

Adalah Pondok Pesantren Nurul Yaqin –kini sudah mempunyai 16 cabang– di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, dalam dua dekade terakhir, yang selalu mendominasi keikutsertaan pada MFQ di setiap MTQ Tingkat Propinsi Sumatera Barat. Hampir separoh dari 19 Kabupaten/kota di propinsi ini, peserta MFQnya adalah santri/santriwati Nurul Yaqin. Sedangkan untuk pelaksanaan MTQ tingkat Kabupaten Padang Pariaman sendiri jangan ditanya lagi. Asrama lengang, guru-guru di kelas kehilangan santri, dan pondok seakan dalam suasana libur. Para santri seakan pindah asrama secara besar-besaran ke lokasi MTQ untuk sementara waktu. Bahkan, banyak yang menganggap perhelatan MTQ seperti ajang classmeeting (perlombaan antar kelas) para santri Nurul Yaqin saja.

Tahun ini, pelaksanaan MTQ tingkat Sumatera Barat sudah sampai pada pelaksanaan ke 38 kali. Di cabang MFQ, 3 dari 6 regu finalis tahun ini adalah santri Nurul Yaqin. Masing-masingnya berhasil mendapat juara 1,2, dan 3. Tradisi dominasi dan juara ini seolah jadi tradisi turun temurun bagi mereka. Aneh bila santri Nurul Yaqin tidak menempatkan wakilnya di deretan para jawara cabang itu.

Secara legal-formal, pihak Pesantren tidak pernah meorientasikan para santri untuk ikut dan mendominasi cabang MFQ di setiap MTQ. Namun, mereka tetap belajar melalui kakak-kakak/guru-guru yang sudah terlebih dahulu mengikutinya. Selain itu, semangat mereka itu juga menguntungkan pihak Pesantren, karena dengan sendirinya mereka jadi lebih giat belajar di kelas dan di asrama.

Jadi, Nurul Yaqin dan MFQ hari ini seperti dua hal yang berkelindan. Nurul Yaqin merasa aneh jika santrinya tidak menjuarai MFQ, dan MFQ pun akan terasa lengang tanpa kehadiran para santri Nurul Yaqin.

Selamat kepada para juara!
Kalian santri/santriwati terbaik.

Ringan-ringan, 19 Juni 2019
Shafwatul Bary, Tk. Imam El-Imrany
(Ketua Pondok Quran PP Nurul Yaqin Ringan-ringan, Sumatera Barat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *